<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3681665504153550942</id><updated>2012-02-16T10:09:59.383-08:00</updated><category term='Aqidah'/><title type='text'>Ana Muslim..</title><subtitle type='html'>"Islam adalah Assunnah dan Assunnah adalah Islam." (Syarhus Sunnah)
- Al-Imam Al Barbahari</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://selenium04.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3681665504153550942/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selenium04.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Selenium04</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12581842841435718311</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>4</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3681665504153550942.post-8212202143347389215</id><published>2011-10-23T01:44:00.000-07:00</published><updated>2011-10-23T01:44:01.974-07:00</updated><title type='text'>Ar-Rifq (Sifat Lemah Lembut) Perhiasan Seorang Muslim</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;h3&gt;Ar-Rifq adalah sifat lemah lembut di dalam berkata dan bertindak  serta memilih untuk melakukan cara yang paling mudah. (Fathul Bari syarh  Shahih Al Bukhari)&lt;/h3&gt;&lt;h3&gt;Sudah sepantasnya bagi seorang muslim untuk berhias dengan sifat  yang sangat mulia tersebut, karena ia merupakan bagian dari sifat-sifat  yang dicintai oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Dengannya pula merupakan  sebab seseorang dapat meraih berbagai kunci kebaikan dan keutamaan.  Sebaliknya, orang yang tidak memiliki sifat lemah lembut, maka ia tidak  akan bisa meraih berbagai kebaikan dan keutamaan.&lt;/h3&gt;&lt;h3&gt;&lt;span id="more-2910"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;h3&gt;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan hal ini kepada ‘Aisyah-istri beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam:&lt;/h3&gt;&lt;h3&gt;&lt;span style="color: green;"&gt;“Sesungguhnya Allah adalah Dzat Yang Maha Lembut yang mencintai kelembutan dalam seluruh perkara.”&lt;/span&gt; (HR. Al Bukhari dan Muslim)&lt;/h3&gt;&lt;h3&gt;Sebagaimana disebutkan pula dalam sebuah hadits:&lt;/h3&gt;&lt;h3&gt;&lt;span style="color: green;"&gt;“Orang yang dijauhkan dari sifat lemah lembut, maka ia dijauhkan dari kebaikan.”&lt;/span&gt; (HR.Muslim)&lt;/h3&gt;&lt;h3&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;span style="color: maroon;"&gt;Keutamaan sifat Ar-Rifq&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;h3&gt;Sebagaimana telah diterangkan diatas bahwa sifat Ar-Rifq (lemah  lembut) merupakan sifat yang dicintai oleh Allah subhanahu wa ta’ala,  dan juga dengannya akan bisa meraih segala kebaikan dan keutamaan.  Dengannya pula akan melahirkan sikap hikmah, yang juga merupakan sikap  yang dicintai oleh Allah subhanahu wa ta’ala di dalam berkata dan  bertindak.&lt;/h3&gt;&lt;h3&gt;Dikisahkan dalam sebuah hadits bahwa suatu ketika Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang duduk-duduk bersama para shahabat  radhiyallahu ‘anhum di dalam masjid. Tiba-tiba muncul seorang ‘Arab  badui (kampung) masuk ke dalam masjid, kemudian kencing di dalamnya.  Maka, dengan serta merta, bangkitlah para shahabat yang ada di dalam  masjid, menghampirinya seraya menghardiknya dengan ucapan yang keras.  Namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang mereka untuk  menghardiknya dan memerintahkan untuk membiarkannya sampai orang  tersebut menyelesaikan hajatnya. Kemudian setelah selesai, beliau  shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta untuk diambilkan setimba air untuk  dituangkan pada air kencing tersebut. (HR. Al Bukhari)&lt;/h3&gt;&lt;h3&gt;Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil ‘Arab badui  tersebut dalam keadaan tidak marah ataupun mencela. Beliau shallallahu  ‘alaihi wa sallam pun menasehatinya dengan lemah lembut:&lt;/h3&gt;&lt;h3&gt;&lt;span style="color: green;"&gt;“Sesungguhnya masjid ini tidak pantas  untuk membuang benda najis (seperti kencing, pen) atau kotor. Hanya saja  masjid itu dibangun sebagai tempat untuk dzikir kepada Allah, shalat,  dan membaca Al Qur’an.”&lt;/span&gt; (HR. Muslim)&lt;/h3&gt;&lt;h3&gt;Melihat sikap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang demikian  lembut dan halusnya dalam menasehati, timbullah rasa cinta dan simpati  ‘Arab badui tersebut kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka  ia pun berdoa: “Ya Allah, rahmatilah aku dan Muhammad, dan janganlah  Engkau merahmati seorangpun bersama kami berdua.” Mendengar doa tersebut  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tertawa dan berkata kepadanya:&lt;/h3&gt;&lt;h3&gt;“Kamu telah mempersempit sesuatu yang luas (rahmat Allah).” (HR. Al Bukhari dan yang lainnya)&lt;/h3&gt;&lt;h3&gt;(Dalam riwayat yang lain disebutkan bahwa doa Arab badui tersebut diucapkan sebelum ia buang air kecil. Wallahu a’lam)&lt;/h3&gt;&lt;h3&gt;Perhatikanlah wahai para pembaca yang kami hormati!&lt;/h3&gt;&lt;h3&gt;Betapa hati manusia itu, pada asalnya, adalah cenderung kepada sikap  yang lembut dan tidak kasar. Betapa indah dan lembutnya cara pengajaran  dari tauladan kita shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap seorang yang  belum mengerti. Dengan sikap hikmah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa  sallam, akhirnya melahirkan rasa simpati dan membuka mata hati Arab  badui tersebut dalam menerima nasehat. Berbeda halnya tatkala  perbuatannya tersebut disikapi dengan kemarahan, yang akhirnya  melahirkan sikap ketidaksukaan. Hal ini bisa dilihat dari perkataannya:  “Ya Allah, rahmatilah aku dan Muhammad, dan janganlah Engkau merahmati  seorangpun bersama kami berdua.”&lt;/h3&gt;&lt;h3&gt;Selalu memberikan kemudahan kepada orang lain dan tidak mau  mempersulit urusan merupakan ciri khas akhlak Rasulullah shallallahu  ‘alaihi wa sallam. Kata beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam  sabdanya:&lt;/h3&gt;&lt;h3&gt;&lt;span style="color: green;"&gt;“Hanya saja kalian diperintah untuk memudahkan dan bukan untuk mempersulit.” &lt;/span&gt;(HR.Al Bukhari)&lt;/h3&gt;&lt;h3&gt;&amp;nbsp;&lt;/h3&gt;&lt;h3&gt;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menyatakan:&lt;/h3&gt;&lt;h3&gt;&lt;span style="color: green;"&gt;“Sesungguhnya Allah adalah Maha Lembut  lagi mencintai kelembutan. Dia memberikan pada sifat kelembutan yang  tidak diberikan kepada sifat kekerasan, dan tidak pula diberikan kepada  sifat-sifat yang lainnya.”&lt;/span&gt; (HR. Muslim)&lt;/h3&gt;&lt;h3&gt;Hadits ini mengandung makna keutamaan sifat lemah lembut, anjuran  untuk berakhlak dengannya, serta tercelanya sifat kasar dan keras.  Sesungguhnya sifat lemah lembut merupakan sebab untuk meraih segala  kebaikan.&lt;/h3&gt;&lt;h3&gt;Makna lafazh hadits, “Dia (Allah subhanahu wa ta’ala, pen)  memberikan sesuatu pada sifat lemah lembut yang tidak diberikan kepada  sifat kekerasan“, yakni bahwa dengan sifat lemah lembut tersebut,  seseorang dapat melakukan perkara-perkara yang tidak akan bisa dilakukan  dengan sifat yang menjadi lawannya yaitu sifat keras dan kasar. Ada  yang mengatakan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala akan memberikan pahala  pada sifat lemah lembut, yang tidak diberikan pada sifat yang lainnya.&lt;/h3&gt;&lt;h3&gt;Dengan sifat lemah lembut yang ada pada diri seseorang, dapat  menyelamatkannya dari api neraka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa  sallam mengatakan:&lt;/h3&gt;&lt;h3&gt;&lt;span style="color: green;"&gt;“Maukah aku kabarkan kepada kalian  tentang orang yang diharamkan dari neraka atau neraka diharamkan  atasnya? Yaitu atas setiap orang yang dekat (dengan manusia), lemah  lembut, lagi memudahkan.”&lt;/span&gt; (HR. Tirmidzi)&lt;/h3&gt;&lt;h3&gt;Ar-Rifq merupakan sifat yang harus dimiliki oleh setiap muslim, terkhusus seorang da’i&lt;/h3&gt;&lt;h3&gt;Termasuk diantara akhlak-akhlak yang harus dimiliki oleh seorang  da’i yang berdakwah di jalan Allah subhanahu wa ta’ala adalah bersikap  lapang dada, menampakkan wajah yang ceria dan bersikap lemah lembut  kepada saudaranya sesama muslim.&lt;/h3&gt;&lt;h3&gt;Sifat tersebut akan mendorong untuk lebih mudah diterimanya dakwah  seseorang tatkala ia menyeru ke jalan Allah subhanahu wa ta’ala.&lt;/h3&gt;&lt;h3&gt;Bahkan terhadap orang kafir tertentu, terkadang perlu untuk bersikap  lemah lembut dalam rangka melembutkan hati mereka untuk tertarik masuk  ke dalam Islam. Telah diketahui bahwasanya Islam adalah sebuah agama  yang ringan dan mudah bagi pemeluknya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa  sallam menyatakan:&lt;/h3&gt;&lt;h3&gt;&lt;span style="color: green;"&gt;“Sesungguhnya agama (Islam) itu mudah.  Setiap orang yang berusaha mempersulitnya pasti akan kalah. Maka  bersikap luruslah, mendekatlah kepada kesempurnaan, dan berilah kabar  gembira, serta ambillah sebuah kesempatan pada pagi hari, petang serta  sebagian dari malam.”&lt;/span&gt; (HR. Al Bukhari)&lt;/h3&gt;&lt;h3&gt;Islam juga memerintahkan kepada pemeluknya untuk bermuamalah dengan  sifat lemah lembut kepada sesama manusia, dan bahkan terhadap binatang  ternak sekalipun. Sebagaimana dalam hadits:&lt;/h3&gt;&lt;h3&gt;&lt;span style="color: green;"&gt;“Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala  telah mewajibkan untuk berbuat baik atas segala sesuatu. Jika kalian  membunuh, maka bunuhlah dengan cara yang baik. Jika kalian menyembelih,  maka sembelihlah dengan cara yang baik. Dan hendaklah salah seorang dari  kalian menajamkan pisaunya (ketika hendak menyembelih), dan  menyenangkan sembelihannya.”&lt;/span&gt; (HR. Muslim)&lt;/h3&gt;&lt;h3&gt;Ketika seorang mukmin telah berhias dengan kelemahlembutan, maka  akan membuahkan pada dirinya sikap kasih sayang kepada orang lain, dan  akan melahirkan pada diri orang lain sikap kecintaan dan keridhaan,  serta menumbuhkan sikap segan dari pihak lawan kepada dirinya.  Sebaliknya, dengan sikap keras, kaku dan kasar akan membuat lari dan  menjauhnya manusia, dan semakin mengobarkan api kebencian dari  orang-orang yang menanam benih kebencian kepada dirinya. Oleh karena  itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan:&lt;/h3&gt;&lt;h3&gt;&lt;span style="color: green;"&gt;“Sesungguhnya sifat lemah lembut  tidaklah berada pada sesuatu kecuali akan membuat indah sesuatu tersebut  dan tidaklah sifat lemah lembut dicabut dari sesuatu kecuali akan  membuat sesuatu tersebut menjadi buruk.”&lt;/span&gt; (HR. Muslim)&lt;/h3&gt;&lt;h3&gt;Kesimpulannya adalah sepantasnya bagi seorang da’i untuk menghiasi  dirinya dengan sifat Ar-Rifq didalam memerintahkan kepada perkara yang  ma’ruf (kebaikan) dan melarang dari yang mungkar.&lt;/h3&gt;&lt;h3&gt;Namun, yang perlu diperhatikan bahwa sifat Ar-Rifq tidaklah  menunjukkan kelemahan atau ketidaktegasan seseorang dalam berkata dan  bertindak. Bahkan dalam sifat Ar-Rifq sendiri, sebenarnya telah  mengandung sikap tegas dalam amar ma’ruf nahi munkar (memerintahkan  kepada kebaikan dan melarang dari kemungkaran). Dan tidaklah sikap tegas  itu identik dengan sikap keras atau kasar. Dalam keadaan tertentu,  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersikap tegas dan keras.  Diantara contohnya:&lt;/h3&gt;&lt;h3&gt;- Celaan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap perbuatan  memanjangkan sholat tanpa memperhatikan keadaan orang-orang yang  berma’mum. (HR. Al Bukhari)&amp;nbsp;&lt;/h3&gt;&lt;h3&gt;- Sikap keras beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap orang  yang makan menggunakan tangan kiri ketika diperintah untuk makan  menggunakan tangan kanan. (HR. Muslim)&lt;/h3&gt;&lt;h3&gt;- Perkataan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Celaka kamu”  terhadap orang yang berlambat-lambat melaksanakan perintah beliau  shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menaiki unta. (HR. Al Bukhari)&lt;/h3&gt;&lt;h3&gt;- Kerasnya sikap beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap orang  (laki-laki) yang memakai cincin emas, setelah ia tahu bahwa perkara itu  adalah perkara yang diharamkan. (HR. Muslim)&lt;/h3&gt;&lt;h3&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;span style="color: maroon;"&gt;Sifat Ar-Rifq dalam menghadapi kerasnya problem kehidupan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;h3&gt;Dan diantara pedoman dan kaidah syar’i yang harus dipegang teguh  dalam menghadapi kerasnya problem (fitnah) dalam kehidupan adalah  hendaknya kita menghadapinya dengan sifat Ar-Rifq (lemah lembut),  At-Ta’anni (tidak tergesa-gesa), dan Al Hilm (santun).&lt;/h3&gt;&lt;h3&gt;Maka hendaknya kita bersikap lemah lembut dan tenang/tidak  tergesa-gesa dalam segala urusan dan janganlah menjadi orang yang mudah  marah. Janganlah kita menjadi orang yang tidak mempunyai sifat ar-rifq,  karena dengan sifat ar-rifq selamanya tidaklah akan membuat seseorang  itu menyesal, baik dalam kehidupan dunia maupun akhirat. Tidaklah sifat  ar-rifq tersebut berada dalam suatu perkara kecuali akan memperindahnya.&lt;/h3&gt;&lt;h3&gt;&amp;nbsp;&lt;/h3&gt;&lt;h3&gt;Wallahu a’lam bishshowab.&lt;/h3&gt;&lt;h3&gt;&amp;nbsp;&lt;/h3&gt;&lt;h3&gt;&amp;nbsp;&lt;/h3&gt;Sumber:&amp;nbsp; Buletin Islam AL ILMU Edisi: 13/III/VIII/1431, dengan rujukan :&lt;br /&gt;1. Risalah fi adda’wah ilallah, karya Asy Syaikh Al ‘Utsaimin.&lt;br /&gt;2. Al ‘Arbaun Haditsan fil Akhlaq ma’a syarhiha, karya Dr. Ahmad Mu’adz Haqqi.&lt;br /&gt;3. Adh Dhawabith Asy Syar’iyah limauqifil muslim fil fitan, karya Asy Syaikh Shalih bin Abdil ‘Aziz.&lt;br /&gt;4. Syarh Riyadhush Shalihin, jilid 2, hal 355-356, karya Asy Syaikh Al ‘Utsaimin.&lt;br /&gt;5. Fathul Bari kitab Adab bab Arrifq jilid 12, karya Al Hafizh Ibnu Hajar Al ‘Asqolani.&lt;br /&gt;6. Lembah Lembut dalam Dakwah, karya Dr. Fadhl Ilahi.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3681665504153550942-8212202143347389215?l=selenium04.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selenium04.blogspot.com/feeds/8212202143347389215/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3681665504153550942&amp;postID=8212202143347389215' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3681665504153550942/posts/default/8212202143347389215'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3681665504153550942/posts/default/8212202143347389215'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selenium04.blogspot.com/2011/10/ar-rifq-sifat-lemah-lembut-perhiasan.html' title='Ar-Rifq (Sifat Lemah Lembut) Perhiasan Seorang Muslim'/><author><name>Selenium04</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12581842841435718311</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3681665504153550942.post-2373928261769728483</id><published>2011-06-29T06:21:00.000-07:00</published><updated>2011-06-29T06:24:26.249-07:00</updated><title type='text'>Kekayaan dan Kemiskinan yang Hakiki</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Kekayaan dan Kemiskinan yang Hakiki&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Abdul Jabbar)&lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Harta benda merupakan bagian dari rizki yang telah ditetapkan  oleh Allah k bagi setiap hamba. Sebagian dilebihkan atas sebagian yang  lain. Sehingga muncullah sebutan kaya dan miskin. Akan tetapi, siapakah  sebenarnya orang yang disebut kaya atau miskin?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Rasulullah n bersabda:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Bukanlah kekayaan itu dari banyaknya harta, akan tetapi kekayaan itu  adalah rasa cukup yang ada di dalam hati.” (HR. Al-Bukhari no. 6446 dan  Muslim no. 1051 dari Abu Hurairah z)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Al-Hafizh Ibnu Hajar t berkata dalam penjelasannya terhadap hadits ini:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Alhasil, orang yang disifati dengan ghina an-nafs (kekayaan jiwa)  adalah orang yang qana’ah terhadap apa yang Allah k rizkikan kepadanya.  Dia tidak tamak untuk menumpuk-numpuk harta tanpa ada kebutuhan. Tidak  pula dia meminta-minta kepada manusia dengan mendesak. Dia merasa ridha  dengan apa yang diberikan Allah k kepadanya, seakan-akan ia  terus-menerus merasa cukup.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sedangkan orang yang disifati dengan faqru an-nafs (kefakiran jiwa)  adalah kebalikannya. Karena dia tidak qana’ah terhadap apa yang  diberikan kepadanya. Dia selalu rakus untuk menumpuk-numpuk harta, dari  arah mana saja. Kemudian, bila dia tidak mendapatkan apa yang ia cari,  ia akan merasa sedih dan menyesal. Seakan-akan dia adalah orang yang  tidak memiliki harta. Karena dia tidak merasa cukup dengan apa yang  diberikan kepadanya, sehingga seakan-akan dia bukan orang yang kaya.”  (Fathul Bari, 2/277)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Demikian pula, Rasulullah n telah menyebutkan orang yang pada hakikatnya miskin, seperti dalam sabda beliau n:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;لَيْسَ الْمِسْكِيْنُ الَّذِي يَطُوفُ عَلَى النَّاسِ تَرُدُّهُ  اللُّقْمَةُ وَاللُّقْمَتَانِ وَالتَّمْرَةُ وَالتَّمْرَتَانِ، وَلَكِنَّ  الْمِسْكِينَ الَّذِي لَا يَجِدُ غِنًى يُغْنِيهِ وَلاَ يُفْطَنُ لَهُ  فَيُتَصَدَّقُ عَلَيْهِ وَلَا يَقُومُ فَيَسْأَلُ النَّاسَ&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Bukanlah orang yang miskin itu orang yang meminta-minta kepada  manusia untuk diberi satu atau dua suap makanan, dan satu atau dua butir  kurma. Akan tetapi orang yang miskin itu adalah orang yang tidak  memiliki (rasa cukup dalam hatinya yang membuat dirinya tidak  meminta-minta kepada orang lain) dan orang yang tidak menyembunyikan  keadaannya, sehingga orang bersedekah kepadanya tanpa dia  meminta-minta.” (HR. Al-Bukhari no. 1479 dan Muslim no. 1472 dari Abu  Hurairah z)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Al-Hafizh Ibnu Hajar t berkata:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Kecukupan dalam hati akan tumbuh dengan keridhaan terhadap qadha  Allah l dan berserah diri terhadap ketetapan-Nya, meyakini bahwa apa  yang ada di sisi Allah l adalah lebih baik dan kekal, sehingga membawa  dirinya berpaling dari tamak dan rakus serta meminta-minta kepada  manusia.” (Fathul Bari, 2/277)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Wallahu a’lam bish-shawab।&lt;/p&gt;&lt;p&gt;source: http://asysyariah।com/syariah/oase/165-kekayaan-dan-kemiskinan-yang-hakiki-oase-edisi-36.html&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3681665504153550942-2373928261769728483?l=selenium04.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selenium04.blogspot.com/feeds/2373928261769728483/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3681665504153550942&amp;postID=2373928261769728483' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3681665504153550942/posts/default/2373928261769728483'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3681665504153550942/posts/default/2373928261769728483'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selenium04.blogspot.com/2011/06/kekayaan-dan-kemiskinan-yang-hakiki.html' title='Kekayaan dan Kemiskinan yang Hakiki'/><author><name>Selenium04</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12581842841435718311</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3681665504153550942.post-9174566504846039180</id><published>2011-04-07T02:05:00.000-07:00</published><updated>2011-04-07T02:08:55.473-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aqidah'/><title type='text'>Tauhid, Yang Pertama dan Utama</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: Tahoma,Verdana,Arial,sans-serif; color: rgb(51, 51, 51);"&gt;Tidak  ada keraguan lagi bahwasanya tauhid memiliki kedudukan yang tinggi  bahkan yang paling tinggi dalam Islam. Tauhid merupakan hak Allah yang  paling besar atas hamba-hamba-Nya, sebagaimana dalam hadits yang  terkenal dari shahabat yang mulia Mu’adz bin Jabal Radhiyallah ‘anhu   ketika Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam  bertanya kepadanya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(  يا معاذ ، أتدري ما حق الله على العباد وما حق العباد على الله ؟ ) قلت :  الله ورسوله أعلم ؟ قال : ( حق الله على العباد أن يعبدوه ولا يشركوا به  شيئا، وحق العباد على الله أن لا يعذب من لا يشرك به شيئا )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai  Mu’adz, tahukah kamu apa hak Allah atas hamba-hamba-Nya dan hak  hamba-hamba-Nya atas Allah?” Mu’adz menjawab: Allah dan rasul-Nya yang  lebih mengetahui. Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : “hak  Allah atas hamba-hamba-Nya adalah mereka beribada kepada-Nya dan tidak  menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makna Tauhid adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya  menyerahkan segala bentuk ibadah hanya kepada Allah ‘Azza wa Jalla  Pencipta alam semesta, serta menjauhkan semua bentuk peribadahan kepada  selain-Nya. Tauhid merupakan agama setiap Rasul ‘alaihimus salam. Allah  Subhanahu wa Ta’ala yang telah mengutus mereka dengan membawa misi  tauhid tersebut kepada setiap umat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara keutamaan tauhid adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Tauhid merupakan pondasi utama dibangunnya segala amalan yang ada dalam agama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana  hadits yang diriwayatkan dari shahabat ‘Abdullah bin Umar Radhiyallahu  ‘anhuma bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa Sallam bersab :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;بُنِيَ  الإِسْلامُ عَلَى خَمْسٍ : شَهَادَةِ أَنْ لا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ  مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ،  وَصَوْمِ رَمَضَانَ وحَجِّ بَيْتِ اللهِ الحَرَام&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Agama Islam  dibangun di atas lima dasar : (1) Syahadah bahwa tidak ada yang berhak  diibadahi kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah, (2)  mendirikan shalat, (3) menunaikan zakat, (4) shaum di bulan Ramadhan (5)  berhaji ke Baitullah Al-Haram.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.  Tauhid merupakan perintah pertama kali di dalam Al Qur’an, sebagaimana  lawan tauhid yaitu syirik yang merupakan larangan pertama kali di dalam  Al Qur’an, yaitu firman Allah Subhanahu wa Ta’ala pada surat Al-Baqarah  ayat 21-22 :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي  خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (21)  الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ  مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ  فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ (22)  [البقرة/21، 22]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai sekalian manusia, ibadahilah oleh kalian  Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian  agar kalian menjadi orang-orang yang bertaqwa. Yang telah menjadikan  untuk kalian bumi sebagai hamparan, langit sebagai bangunan, dan  menurunkan air dari langit, lalu Allah mengeluarkan dengan air tersebut  buah-buahan, sebagai rizki bagi kalian. Maka janganlah kalian menjadikan  sekutu-sekutu bagi Allah padahal kalian mengetahui.” (Al-Baqarah:  21-22)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ayat ini terdapat perintah Allah “ibadahilah Rabb  kalian” dan larangan Allah “janganlah kalian menjadikan sekutu-sekutu  bagi Allah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Tauhid merupakan poros utama dakwah seluruh para  nabi dan rasul, sejak rasul yang pertama hingga penutup para rasul yaitu  Nabi Muhammad Shallallahu ‘alahi wa Sallam, sebagaimana firman Allah  Subhanahu wa Ta’ala :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ [النحل/36]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“dan  sungguh Kami telah mengutus pada setiap umat seorang rasul (yang  menyeru) agar kalian beribadah kepada Allah dan menjauhi thaghut.”  (An-Nahl: 36)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَمَا  أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلاَّ نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ  لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنَا فَاعْبُدُونِ (25) [الأنبياء/25]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan  tidaklah Kami mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami  wahyukan kepadanya : bahwasanya tidak ada yang berhak untuk diibadahi  melainkan Aku, maka beribadahlah kalian kepada-Ku.” (Al Anbiya’: 25)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.  Tauhid merupakan perintah Allah yang paling besar dari semua perintah.  Begitu pula lawan tauhid, yaitu syirik, merupakan larangan paling besar  dari semua larangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُوا إِلاَّ إِيَّاهُ [الإسراء/23]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan Rabbmu telah memutuskan agar kalian jangan beribadah kecuali kepada-Nya ” (Al Isra’: 23)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman pula:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَاعْبُدُوا اللهَ وَلاَ تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا [النساء/36]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan beribadahlah kepada Allah dan janganlah kalian menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun.” (An Nisa’: 36)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perintah  untuk beribadah kepada Allah dan larangan berbuat syirik, Allah  letakkan sebelum perintah-perintah lainnya. Menunjukkan bahwa perintah  terbesar adalah Tauhid, dan larangan terbesar adalah syirik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.  Tauhid merupakan syarat masuknya seorang hamba ke dalam Al –Jannah  (surga) dan terlindung dari An-Nar (neraka). Sebagaimana pula lawannya  yaitu syirik merupakan sebab utama masuknya dan terjerumusnya seorang  hamba ke dalam An Nar dan diharamkan dari Jannah Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfriman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّهُ  مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ  وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ (72)  [المائدة/72]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya barangsiapa yang menyekutukan Allah,  maka Allah akan mengharamkan baginya Al Jannah dan tempat kembalinya  adalah An-Nar dan tidak ada bagi orang-orang zhalim seorang  penolongpun.” (Al Ma’idah: 72)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa Sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa  yang mati dan dia mengetahui (berilmu) bahwa tidak ada ilah yang benar  kecuali Allah, maka dia akan masuk ke dalam Al Jannah.” (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa Sallam bersabda pula sebagaimana yang diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;من لقي الله لا يشرك به شيئا دخل الجنة ، ومن لقيه يشرك به شيئا دخل النار&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa  berjumpa dengan Allah dalam keadaan tidak berbuat syirik kepada-Nya  dengan sesuatu apapun, dia akan masuk Al-Jannah dan barangsiapa yang  berjumpa dengan Allah dalam keadaan bebruat syirik kepada-Nya, dia akan  masuk An Nar.” (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Tauhid merupakan syarat diterimanya amal seseorang oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلَقَدْ  أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ  لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ (65) [الزمر/65]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sungguh  telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan orang-orang (para nabi)  sebelummu, bahwa jika kamu berbuat syirik, niscaya batallah segala  amalanmu, dan pasti kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (Az-Zumar :  65)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syirik merupakan sebab batal alias tertolaknya semua amalan.  Maka lawan syirik, yaitu Tauhid merupakan syarat diterimanya amalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari  penjelasan tentang keutamaan tauhid di atas, maka sangatlah jelas bahwa  risalah para rasul adalah satu yaitu risalah tauhid. Tugas dan tujuan  mereka adalah satu yaitu mengembalikan hak-hak Allah agar umat ini  beribadah hanya kepada-Nya saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini merupakan dakwah para Rasul  sejak rasul yang pertama yaitu Nabi Nuh ‘alahis salam hingga rasul yang  terakhir yaitu Nabi Muhammad Shallallahu ‘alahi wa Sallam. Para rasul  tersebut tidak hanya menuntut dari manusia agar mengakui dan mengimani  bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala satu-satunya Dzat yang mencipta,  memberi rizki, menghidupkan dan mematikan, akan tetapi para rasul  tersebut juga menuntut dari umat manusia agar mereka mengakui dan  mengimani bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah satu-satu-Nya Dzat yang  berhak dan layak untuk diibadahi, tidak ada sekutu bagi-Nya dalam hak  peribadahan. Yakni mentauhidkan Allah dalam beribadah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah  Shallallahu ‘alahi wa Sallam sebagai suri tauladan yang baik bagi kita,  memulai dakwah beliau dengan tauhid selama 13 tahun di Makkah dan  mengingkari peribadahan kepada selain Allah, baik peribadahan kepada  nabi, malaikat, wali, batu, pohon, dan sebagainya yang dilakukan oleh  bangsa arab dan lainnya. Demikian pula setelah beliau hijrah, berdakwah  di Madinah selama 10 tahun, beliau terus melanjutkan dakwah menuju  kepada tauhid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula ketika beliau Shallallahu ‘alahi wa  Sallam mengutus para shahabatnya untuk mendakwahi umat manusia, beliau  memerintahkan kepada mereka untuk awal pertama kali yang harus  disampaikan adalah dakwah tauhid Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana  ketika beliau mengutus Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu ke negeri  Yaman, beliau Shallallahu ‘alahi wa Sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فليكن أول ما تدعوهم إليه شهادة أن لا إله إلا الله . وفي رواية- : إلى أن يوحدوا الله&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maka  pertama kali yang engkau dakwahkan kepada mereka adalah persaksian  bahwasanya tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah. Dan riwayat  yang lain : dakwah agar mentauhidkan Allah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim  dari shahabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada  hadits ini terdapat dalil yang menunjukkan bahwasanya tauhid adalah  kewajiban pertama dan utama untuk disampaikan kepada manusia, di mana  Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa Sallam memerintahkan kepada Mu’adz  radhiyallahu ‘anhu untuk memulai dalam berdakwah dengan hal yang pertama  dan utama untuk mereka।&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://www.darussalaf.or.id/stories.php?id=1518&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma,Verdana,Arial,sans-serif; color: rgb(51, 51, 51);"&gt;http://www.assalafy.org/mahad/?p=329    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3681665504153550942-9174566504846039180?l=selenium04.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selenium04.blogspot.com/feeds/9174566504846039180/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3681665504153550942&amp;postID=9174566504846039180' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3681665504153550942/posts/default/9174566504846039180'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3681665504153550942/posts/default/9174566504846039180'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selenium04.blogspot.com/2011/04/tauhid-yang-pertama-dan-utama.html' title='Tauhid, Yang Pertama dan Utama'/><author><name>Selenium04</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12581842841435718311</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3681665504153550942.post-2925551981969205412</id><published>2008-06-10T18:52:00.000-07:00</published><updated>2008-06-10T18:54:40.050-07:00</updated><title type='text'>Meniti Keluarga Sakinah dengan Akhlak Terpuji</title><content type='html'>&lt;style type="text/css"&gt;&lt;!-- DIV {margin:0px;}--&gt;&lt;/style&gt;&lt;div style="font-family: arial,helvetica,sans-serif; font-size: 10pt;"&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="judul1"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="IN"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span class="judul1"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="IN"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span class="judul1"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="IN"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Meniti Keluarga Sakinah dengan Akhlak Terpuji&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="atas"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Kamis, 01 Mei 2008 - 03:01:25,  Penulis : Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span class="bawah"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Kategori : Akhlak&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span class="bawah"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Sumber &lt;a rel="nofollow" target="_blank" href="http://www.asysyariah.com/"&gt;&lt;span style="color:#0000ff;"&gt;www.asysyariah.com&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span class="fnu"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="IN"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span class="fnu"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; color: blue; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Menjadi keluarga sakinah, adalah hal yang diidamkan setiap pasangan yang hendak membangun rumah tangga. Sesuatu yang tidak mudah, namun tak mustahil untuk diwujudkan. Apa kuncinya?&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fnu"&gt;Bahtera rumah tangga membutuhkan nakhoda yang mengerti tujuan dan arah berlayar, diikuti para awak yang memiliki kesabaran yang tangguh dan teruji, yang siap diatur oleh sang nakhoda. Sebagaimana bahtera yang mengarungi samudra yang luas akan menghadapi arus dan gelombang yang menggunung, begitu pula bahtera berumah tangga. Akan banyak ujian dan cobaan di dalamnya. Banyak kerikil-kerikil tajam dan duri-duri yang menusuk peraduan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fnu"&gt;Dahsyatnya ujian tersebut menyebabkan banyak bahtera rumah tangga yang kandas dan tidak bisa berlabuh lagi, bahkan hancur berkeping-keping. Sang istri ditelantarkan dengan tidak dididik, bahkan tidak diberikan nafkah. Sehingga muncul awak-awak bahtera yang tidak taat kepada nakhoda. Awak yang tidak mengerti tugas dan kewajibannya, berjalan sendiri dan mencari kesenangan masing-masing. Inilah pertanda kecelakaan dan kehancuran. Sang anak dibiarkan seakan-akan tidak memiliki ayah, sebagai seorang pemandu dan pembela yang akan mengarahkan dan melindungi. Seakan-akan tidak memiliki ibu, yang akan memberikan luapan kasih sayang dan perhatian yang dalam. Masing-masing berjalan pada keinginan dan kehendaknya, tidak merasa adanya keterikatan dengan yang lain. Sang nakhoda berjalan di atas dunianya, sang istri dan sang anak di atas dunia yang lain. Saling tuduh dan saling vonis serta saling mencurigai akan terus berkecamuk, berujung dengan perpisahan. Akankah gambaran keluarga tersebut mendapatkan ketenangan, ketentraman, dan kebahagiaan? Bahkan itulah pertanda malapetaka yang besar dan dahsyat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fnu"&gt;&lt;strong&gt;Suratan Taqdir&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fnu"&gt;Memang problem dalam berumah tangga adalah sebuah suratan taqdir yang mesti ada dan terjadi. Akan tetapi Allah Subhanahu wa ta'ala telah menurunkan syariat-Nya untuk membimbing ke jalan yang diridhai dan dicintai-Nya. Jalan yang akan mengakhiri problem tersebut. Sebuah suratan yang tidak akan berubah dan tidak akan dipengaruhi oleh keadaan apapun. Mungkin kita akan menyangka, suratan taqdir tersebut tidak akan menimpa orang-orang yang taat beribadah dan orang-orang mulia di sisi Allah Subhanahu wa ta'ala. Tentu tidak demikian keadaannya. Nabi Nuh 'alaihissalam berseberangan dengan istri dan anaknya. Nabi Luth 'alaihissalam dengan istrinya yang jelas-jelas mendukung perbuatan keji dan kotor: laki-laki “mendatangi” laki-laki. Hal ini telah diceritakan oleh Allah Subhanahu wa ta'ala di dalam firman-Nya:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fnu"&gt;ضَرَبَ اللهُ مَثَلاً لِلَّذِينَ كَفَرُوا اِمْرَأَةَ نُوحٍ وَامْرَأَةَ لُوطٍ كَانَتَا تَحْتَ عَبْدَيْنِ مِنْ عِبَادِنَا صَالِحَيْنِ فَخَانَتَاهُمَا فَلَمْ يُغْنِيَا عَنْهُمَا مِنَ اللهِ شَيْئًا وَقِيلَ ادْخُلاَ النَّارَ مَعَ الدَّاخِلِينَ&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fnu"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;“Allah membuat istri Nuh dan istri Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang shalih di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua istri itu berkhianat kepada suaminya (masing-masing), maka suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya): ‘Masuklah ke dalam Jahannam bersama orang-orang yang masuk (Jahannam)’.” (At-Tahrim: 10)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="fnu"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Ujian dalam berumah tangga tentu akan lebih besar dibanding ujian yang menimpa individu. Hal ini telah dijelaskan oleh Allah Subhanahu wa ta'ala dalam firman-Nya ketika menjelaskan tujuan ilmu sihir dipelajari dan diajarkan:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fnu"&gt;فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fnu"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;“Maka mereka mempelajari dari keduanya, apa yang dengan sihir itu, mereka dapat mencerai-beraikan antara seorang (suami) dengan istrinya.” (Al-Baqarah: 102)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; color: blue; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="fnu"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fnu"&gt;إِنَّ إِبْلِيسَ يَضَعُ عَرْشَهُ عَلَى الْمَاءِ ثُمَّ يَبْعَثُ سَرَايَاهُ فَأَدْنَاهُمْ مِنْهُ مَنْزِلَةً أَعْظَمُهُمْ فِتْنَةً، يَجِيءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُولُ: فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا. فَيَقُولُ: مَا صَنَعْتَ شَيْئًا. قَالَ: ثُمَّ يَجِيءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُولُ: مَا تَرَكْتُهُ حَتَّى فَرَّقْتُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ. قَالَ: فَيُدْنِيهِ مِنْهُ وَيَقُولُ: نِعْمَ أَنْتَ. قَالَ اْلأَعْمَشُ: أُرَاهُ قَالَ: فَيَلْتَزِمُهُ &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fnu"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;“Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air, kemudian dia mengutus bala tentaranya. Yang paling dekat kedudukannya dengan Iblis adalah yang paling besar fitnahnya. Datang kepadanya seorang tentaranya lalu berkata: ‘Aku telah berbuat demikian-demikian.’ Iblis berkata: ‘Engkau belum berbuat sesuatu.’ Dan kemudian salah seorang dari mereka datang lalu berkata: ‘Aku tidak meninggalkan orang tersebut bersama istrinya melainkan aku pecah belah keduanya.’ Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata: ‘Lalu iblis mendekatkan prajurit itu kepadanya dan berkata: ‘Sebaik-baik pasukan adalah kamu.’ Al-A’masy berkata: ‘Aku kira, (Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam) berkata: ‘Lalu iblis memeluknya.” (HR. Muslim no. 5302)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fnu"&gt;Bila iblis telah berhasil menghancurkannya, kemana sang anak mencari kasih sayang? Hidup akan terkatung-katung. Yang satu ingin mengayominya, yang lain tidak merestuinya. Alangkah malang nasibmu, engkau adalah bagian dari korban Iblis dan bala tentaranya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fnu"&gt;Kalau demikian keras rencana busuk Iblis terhadap keluarga orang-orang yang beriman, kita semestinya berusaha mencari jalan keluar dari jeratan dan jaring yang dipasang oleh Iblis, yaitu dengan belajar ilmu agama.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fnu"&gt;Bahkan keluarga terbaik, mulia dan dibangun oleh seorang terbaik, imam para nabi dan rasul, Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam bersama Ummahatul Mukminin, juga tak lepas dari duri-duri dalam berumah tangga. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah marah kepada istri beliau ‘Aisyah dan Hafshah, sampai beliau memberikan takhyir (pilihan) kepada keduanya dan kepada istri-istri beliau yang lain: apakah tetap bersama beliau ataukah memilih dunia. Kemudian seluruh istri beliau lebih memilih bersama beliau. (lihat secara detail kisahnya dalam riwayat Al-Imam Al-Bukhari no. 4913, 5191 dan Muslim no. 1479)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fnu"&gt;Cerita menantu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, ‘Ali bin Abu Thalib radhiyallahu 'anhu bersama putri beliau Fathimah radhiyallahu 'anha –dan kita mengetahui kedudukan beliau berdua di dalam agama ini– juga tidak terlepas dari kerikil-kerikil berumah tangga.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fnu"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;Telah diceritakan oleh Sahl bin Sa’d As-Sa’idi radhiyallahu 'anhu, dia berkata: “Nama yang paling disukai oleh ‘Ali adalah Abu Turab. Dia senang sekali dengan nama yang diberikan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam itu. Suatu hari, ‘Ali marah kepada Fathimah, lalu dia keluar dari rumah menuju masjid dan berbaring di dalamnya. Bertepatan dengan kejadian tersebut Rasulullah datang ke rumah putrinya, Fathimah, namun beliau tidak mendapatkan ‘Ali di rumah. “Mana anak pamanmu itu?”, tanya beliau. “Telah terjadi sesuatu antara aku dan dia, dan dia marah padaku lalu keluar dari rumah. Dia tidak tidur siang di sisiku,” jawab Fathimah. Rasulullah berkata kepada seseorang: “Lihatlah di mana Ali.” Orang yang disuruh tersebut datang dan mengabarkan: “Wahai Rasulullah, dia ada di masjid sedang tidur.” Rasulullah mendatanginya, yang ketika itu ‘Ali sedang berbaring dan beliau dapatkan rida`-nya (kain pakaian bagian atas) telah jatuh dari punggungnya. Mulailah beliau mengusap pasir dari punggungnya seraya berkata: “Duduklah wahai Abu Turab. Duduklah wahai Abu Turab.” (HR. Al-Bukhari no. 3703 dan Muslim no. 2409)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fnu"&gt;Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah Teladan dalam Berumah Tangga&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fnu"&gt;Meniti jejak Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam kehidupan berumah tangga adalah sebuah kewajiban bagi setiap muslim yang menginginkan kebahagiaan dalam berumah tangga. Hal ini masuk dalam keumuman firman Allah Subhanahu wa ta'ala di dalam Al-Qur`an:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fnu"&gt;لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللهَ وَالْيَوْمَ اْلآخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيرًا&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fnu"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah." (Al-Ahzab: 21)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fnu"&gt;Allah Subhanahu wa ta'ala telah bersumpah tentang keagungan akhlak Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam di dalam firman-Nya:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fnu"&gt;وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيْمٍ&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fnu"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (Al-Qalam: 4)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span class="fnu"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; color: blue; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span class="fnu"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fnu"&gt;إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ اْلأَخْلَاقِ. -وَفِي رِوَايَةٍ- إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ اْلأَخْلَاقِ&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fnu"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan budi pekerti yang mulia.” –Dan di dalam sebuah riwayat-: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kebagusan akhlak.” (HR. Al-Imam Ahmad di dalam Musnad (2/318) dan Al-Imam Al-Bukhari di dalam Al-Adab no. 273 dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fnu"&gt;كَانَ رَسُولُ اللهِ أَحْسَنَ النَّاسِ خُلُقًا&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fnu"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;“Rasulullah adalah orang yang paling bagus akhlaknya.” (HR. Al-Bukhari no. 6203 dan Muslim no. 659 dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span class="fnu"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Abu Dzar radhiyallahu 'anhu berkata kepada saudaranya tatkala datang berita diutusnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam: “Pergilah engkau ke lembah itu dan dengar apa ucapannya.” Kemudian dia kembali lalu menyampaikan:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fnu"&gt;رَأَيْتُهُ يَأْمُرُ بِمَكَارِمَ اْلأَخْلَاقِ&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fnu"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;“Aku melihat dia memerintahkan kepada budi pekerti yang baik.” (HR. Al-Bukhari no. 3861 dan Muslim no. 2474)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; color: blue; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="fnu"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; color: blue; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Seseorang tidak akan menemukan kekecewaan bila dia menjadikan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai suri teladan dalam semua tatanaan kehidupannya. Baik ketika dia seorang diri, berumah tangga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dia akan berbahagia di saat banyak orang dirundung kesedihan. Dia akan tentram di saat orang-orang dirundung kegelisahan. Dia akan terbimbing di saat semua orang tersesat jalannya. Dia akan tabah dan sabar di saat orang lain gundah gulana.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fnu"&gt;وَإِنْ تُطِيْعُوْهُ تَهْتَدُوا&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fnu"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;“Dan jika menaatinya niscaya kalian akan mendapatkan petunjuk.” (An-Nur: 54)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fnu"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;Hisyam bin ‘Amir berkata kepada ‘Aisyah radhiyallahu 'anha: “Wahai Ummul Mukminin, beritahukan kepadaku tentang akhlak Rasulullah?” Beliau menjawab: “Tidakkah kamu membaca Al-Qur`an?” Hisyam bin Amir berkata: “Iya.” ‘Aisyah berkata: &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="fnu"&gt;كَانَ خُلُقُ نَبِيِّ اللهِ الْقُرْآنُ&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fnu"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;“Akhlak Nabiyullah Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah Al-Qur`an.” (HR. Muslim no. 746)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fnu"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan Keluarga Beliau&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fnu"&gt;Sungguh amat sangat menarik bila dikaji kehidupan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersama istri-istri beliau. Sebuah kehidupan indah, yang mestinya ditulis dengan tinta emas, dan telah diabadikan oleh Allah Subhanahu wa ta'ala hingga hari kiamat. Sehingga setiap umat beliau yang kembali ke jalan As-Sunnah akan mengetahui hal itu. “Indahnya hidup bersama Sunnah Rasulullah”, itulah ucapan yang akan keluar dari orang yang telah mencium aroma As-Sunnah walaupun sedikit. Mari kita menelaah beberapa riwayat tentang indahnya hidup Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersama keluarga beliau, yang semuanya itu merupakan buah dari akhlak yang mulia dan agung.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fnu"&gt;Telah disebutkan di dalam kitab-kitab As-Sunnah seperti kitab Shahih Al-Imam Al-Bukhari, Shahih Al-Imam Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan At-Tirmidzi, Ibnu Majah, An-Nasa`i dan selain mereka. Lihat nukilan beberapa riwayat dalam kitab Ash-Shahihul Musnad Min Syama`il Muhammadiyyah. (1/384-420, karya Ummu Abdullah Al-Wadi’iyyah)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fnu"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;1. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan kelembutan beliau bersama istri-istrinya.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span class="fnu"&gt;Beliau tidur satu selimut, beliau mandi berduaan dan mencium istrinya sekalipun dalam keadaan berpuasa, serta bercumbu rayu sekalipun dalam keadaan haid, sebagaimana hadits dari Ummu Salamah radhiyallahu 'anha dalam riwayat Al-Imam Al-Bukhari dan Muslim.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fnu"&gt;Diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim (no. 1807) dari Hafshah radhiyallahu 'anha dan datang pula dari hadits ‘Aisyah radhiyallahu 'anha diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari (no. 1928) dan Muslim (no. 1851):&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fnu"&gt;كَانَ رَسُولُ اللهِ يُقَبِّلُ وَهُوَ صَائِمٌ&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fnu"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;“Rasulullah mencium (istrinya) dalam keadaan beliau berpuasa.”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fnu"&gt;Bahkan Ummu Salamah radhiyallahu 'anha (HR. Al-Imam Al-Bukhari no. 322 dan Muslim 444) bercerita kepada Zainab putrinya, bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menciumnya dalam keadaan beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam berpuasa, dan beliau radhiyallahu 'anha pernah mandi bersama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dari sebuah bejana dalam keadaan junub.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fnu"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;2. Rasulullah menyenangkan istrinya dengan sesuatu yang bukan merupakan maksiat kepada Allah Subhanahu wa ta'ala.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span class="fnu"&gt;Sebagaimana riwayat dari Aisyah radhiyallahu 'anha: &lt;i style=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;“Aku melihat Rasulullah menutupi aku dengan selendangnya, dan aku melihat kepada anak-anak Habasyah yang sedang bermain di masjid hingga akulah yang bosan.” (HR. Al-Bukhari)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fnu"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;3. Berbincang-bincang bila memiliki kesempatan.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fnu"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fnu"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; color: blue; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Sebagaimana dalam riwayat dari sahabat 'Aisyah radhiyallahu 'anha: “Rasulullah shalat dalam keadaan duduk dan membaca dalam keadaan duduk. Dan bila masih tersisa dalam bacaannya sekitar 30 atau 40 ayat, beliau berdiri dan membacanya dalam keadaan berdiri. Kemudian beliau ruku’ dan sujud. Dan beliau lakukan hal itu pada rakaat kedua bila beliau menunaikan shalatnya. Jika aku bangun, beliau berbincang-bincang denganku dan bila aku tidur beliau juga tidur.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fnu"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;4. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berlomba lari dengan istrinya.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span class="fnu"&gt;Diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu 'anha:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fnu"&gt;أَنَّهَا كَانَتْ مَعَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فِي سَفَرٍ قَالَتْ: فَسَابَقْتُهُ فَسَبَقْتُهُ عَلَى رِجْلَيَّ، فَلَمَّا حَمِلَتِ اللَّحْمُ فَسَابَقْتُهُ فَسَبَقَنِي، قَالَ: هَذِهِ بِتِلْكَ السَّبْقَةِ &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fnu"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;“Tatkala dia bersama Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam sebuah perjalanan, dia berkata: ‘Aku berlomba lari dengan beliau dan aku memenangkannya.’ Tatkala aku gemuk, aku berlomba (lagi) dengan beliau dan beliau memenangkannya. Beliau berkata: “Kemenangan ini sebagai balasan atas kemenanganmu yang lalu.” (HR. Abu Dawud, 7/423 dan Ahmad, 6/39)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fnu"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span class="fnu"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fnu"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; color: blue; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;5. Khidmat (pelayanan) Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam rumah tangga&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fnu"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fnu"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;Diriwayatkan dari Aswad, dia berkata: Aku bertanya kepada Aisyah radhiyallahu 'anha: “Apa yang diperbuat oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam di dalam rumahnya?” Dia berkata: “Beliau selalu membantu keluarganya, dan bila datang panggilan shalat beliau keluar menuju shalat.” (HR. Al-Bukhari no. 676, 5363 dan Ahmad, 6/49)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fnu"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;6. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersenda gurau dengan istrinya, dengan menyebutkan satu sifat yang ada pada diri sang istri&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;, sebagaimana riwayat dari Aisyah radhiyallahu 'anha. (HR. Al-Bukhari no. 5228 dan Muslim no. 4469)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fnu"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;7. Rasulullah menyenangkan istrinya dengan cara minum dari bekas mulut istrinya dan makan dari bekas tempat makan istrinya&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;, sebagaimana riwayat dari ‘Aisyah radhiyallahu 'anha. (HR. Muslim no. 300)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fnu"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;8. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam cemburu melebihi kecemburuan para sahabat beliau.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fnu"&gt;قَالَ سَعْدُ بْنِ عُبَادَةَ: لَوْ رَأَيْتُ رَجُلاً مَعَ امْرَأَتِي لَضَرَبْتُهُ بِالسَّيْفِ غَيْرَ مُصْفَحٍ. فَبَلَغَ ذَلِكَ النَّبِيَّ صلى الله عيه وسلم فَقَالَ: أَتَعْجَبُونَ مِنْ غِيْرَةِ سَعْدٍ؟ لَأَنَا أَغْيَرُ مِنْهُ وَاللهُ أَغْيَرُ مِنِّي&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fnu"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;Sa’d bin ‘Ubadah berkata: “Jika aku menjumpai seseorang bersama istriku niscaya aku akan memenggalnya dengan pedang pada sisi yang tajam.” Sampailah ucapan itu kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam lalu beliau bersabda: “Apakah kalian heran dengan kecemburuan Sa’d? Sungguh, aku lebih cemburu darinya, dan Allah lebih cemburu dariku.” (HR. Al-Bukhari no. 6846 dan Muslim no. 2754)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fnu"&gt;Beberapa contoh yang telah dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam di atas adalah sebagai aplikasi dari wujud taqarrub kepada Allah Subhanahu wa ta'ala, bukan semata-mata kebahagiaan dunia. Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullahu berkata: “Apabila seseorang mempergauli istrinya dengan cara yang baik, janganlah semata-mata hanya untuk mendapatkan kebahagiaan dunia semata. Bahkan hendaknya dia berniat untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa ta'ala dengan melaksanakan apa yang diwajibkan atasnya. Masalah ini terlalaikan dari banyak orang. Dia berniat hanya melanggengkan pergaulannya semata dan dia tidak berniat untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa ta'ala. Maka hendaklah setiap orang mengetahui bahwa dia sedang melaksanakan perintah Allah Subhanahu wa ta'ala: ‘Dan pergaulilah mereka dengan cara yang baik’.” (Asy-Syarhul Mumti’, 5/357)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fnu"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Beberapa Akhlak Menuju Keluarga Sakinah&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span class="fnu"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Setiap orang muslim meyakini tentang kedudukan akhlak dalam kehidupan individu, berkeluarga, bermasyarakat dan bernegara. Di sini, ada beberapa akhlak dan adab yang harus ada pada suami-istri, yakni berupa hak di antara keduanya, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta'ala:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fnu"&gt;وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fnu"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;“Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada istrinya.” (Al-Baqarah: 228)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="fnu"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;1. Keduanya memiliki sifat amanah.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fnu"&gt;Jangan sekali-kali salah satu dari keduanya mengkhianati yang lain, karena mereka berdua tak ubahnya dua orang yang sedang berserikat, sehingga dibutuhkan amanah, menerima nasihat, jujur dan ikhlas di antara keduanya dalam segala kondisi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fnu"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;2. Memiliki kasih sayang di antara keduanya.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fnu"&gt;Sang istri menyayangi suami dan begitu juga sebaliknya, sang suami menyayangi istrinya. Ini merupakan perwujudan firman Allah Subhanahu wa ta'ala:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fnu"&gt;وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fnu"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang.” (Ar-Rum: 21)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span class="fnu"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fnu"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;3. Menumbuhkan rasa saling percaya antara kedua belah pihak. Jangan sekali-kali terkotori dengan keraguan terhadap kejujuran, amanah, dan keikhlasannya.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; color: blue; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fnu"&gt;4. Lemah lembut, wajah yang selalu ceria, ucapan yang baik dan penuh penghargaan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span class="fnu"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt; Hal ini masuk dalam keumuman firman Allah Subhanahu wa ta'ala:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fnu"&gt;وَعَاشِرُوْهُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fnu"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;“Bergaullah dengan mereka secara patut.” (An-Nisa`: 19)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fnu"&gt;Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam  bersabda:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fnu"&gt;وَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fnu"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;“Inginkan dan lakukan kebaikan untuk kaum wanita.” (Lihat Minhajul Muslim, 1/102).&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span class="fnu"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span class="fnu"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Wallahu a’lam.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span class="fnu"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span class="fnu"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;  &lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3681665504153550942-2925551981969205412?l=selenium04.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selenium04.blogspot.com/feeds/2925551981969205412/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3681665504153550942&amp;postID=2925551981969205412' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3681665504153550942/posts/default/2925551981969205412'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3681665504153550942/posts/default/2925551981969205412'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selenium04.blogspot.com/2008/06/meniti-keluarga-sakinah-dengan-akhlak.html' title='Meniti Keluarga Sakinah dengan Akhlak Terpuji'/><author><name>Selenium04</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12581842841435718311</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
